Rabu, 31 Oktober 2012

Contoh Naskah Drama

Keong Mas Keracunan


Di sebuah taman bunga yang indah, Sri Lestari sedang dimabuk cinta dengan Pangeran Harapan Jaya.
Mereka menari-nari bahagia. (lipsing Kuch Kuch Hota Hai-Sahrukh Khan)
Tiba-tiba Sang Pangeran mengejutkan Sri Lestari dengan berlutut di hadapannya.
Pangeran Harapan Jaya   : (berlutut, menengadahkan cincin, menyanyi  Janji Suci-Yovie And Nuno)
Sri Lestari                               : (melongo)
Pangeran Harapan Jaya   : Bagaimanakah jawabanmu, wahai Dindaku tercinta?
Sri Lestari                               : Tak pernah kubayangkan, wahai Kakandaku. Setelah sekian lama, akhirnya Engkau melamar diriku. Dengan segala hormat, kuterima lamaranmu. (meringis)
Ternyata dari kejauhan, Puspa dan Indah mengintip peristiwa itu. Mereka menatap dengan penuh rasa iri dan benci.
Puspa                                      : (menyanyi Jika Cinta Dia-Geisha) Sialan! Pangeran Harapan Jaya direbut oleh Sri Lestari.
Indah                                       : Kita tidak boleh tinggal diam.
Puspa                                      : Ayo kita pikirkan cara untuk menghentikan mereka!
Indah                                       : Ayo kita lapor pada bunda!
Akhirnya mereka pulang dan mengadu pada Mak Patas.
Indah                                       : Mak Pat, Mak Patas, aku ingin curhat. (menyanyi Dengarkan Curhatku-Vierra)
Mak Patas                             : Ingin curhat apa anak-anak kecil?
Puspa                                      : Saya ingin bercerita tentang pangeran saya yang direbut oleh Sri Lestari.
Mak Patas                             : Bagaimana ceritanya hingga Pangeran Jaya dapat direbut oleh Sri Lestari?
Indah                                       : Sepertinya sudah jelas, dia pasti menggunakan guna-guna untuk merebut pangeranku.
Puspa                                      :Benar mak, pasti begitu! Aku yakin pasti begitu. Aku sedih. Huaaaaaaaaaa…
Mak Patas                             : Tenang, tenang. Tenangkan diri kalian! Ambil nafas dalam-dalam, keluarkan perlahan! Tapi jangan lewat bawah.
Puspa dan Indah                 : (menghirup nafas) Apa yang harus kami lakukan, Mak? Kami tidak terima!
Mak Patas                             : Ya sudah. Kalian sabar saja. Sabar saja! Saja! Saja!
Puspa dan Indah                 : Apa?! Huh, dasar mak kejam! Kejam! Kejam! (dengan logat Mak Patas)
Mak Patas                             : Ya sudahlah. Memang dasar kalian anak kecil! Sesuka kalian sajalah. Sudah ya, makmu ini mau update status dulu. Dadaaah…
Puspa dan Indah                 : Dasar emak emak! Emak! Emak! (dengan logat Mak Patas)
Kedua saudara kembar itu pun berlari ke ruang makan dan mengambil beberapa bakul nasi.
Indah                                      : Emak itu tidak mengerti perasaanku. Aku jadi kehilangan pangeranku. Aku sedih. Hiks hiks hiks…
Puspa                                      : Hey, dia pangeranku!
Indah                                      : Sudah, sudah. Jangan meributkan hal ini. Lebih baik kita pikirkan Sri Lestari kurang ajar itu!
Puspa                                      : Huuuh! (mengalihkan pandangan pada majalah dan membacanya)
Indah                                      : Heh, kau mendengarkan aku tidak, sih? Puspa!
Puspa                                      : Lihat ini! Majalah ini! (sambil menunjukkan majalah yang dibacanya)
Indah                                      : (membaca majalah keras-keras) Menampung keluhan-keluhan para remaja gaul masa kini. Berminat? Datanglah ke padepokan dukun machol! Jalan ½ Veteran no. 0,75 Kediri.
Puspa                                      : Baiklah kalau begitu. Kita ke sana sekarang! Kita santet si Sri Lestari itu! Kita santet! Kita santet! Hahahaha..
Indah                                      : Iya iya. Kita santet. Nafsu amat!

Mereka pun menuju ke padepokan dukun santet macho itu dengan kepenuhan hati, kesigapan hati, ketekadan hati, semangat, dan penuh percaya diri.
Puspa dan Indah                : (mengetuk pintu)
Mbah Baruna                       : Masuk!
Puspa dan Indah                : (masuk dengan takut-takut)
Mbah Baruna                       : Tak usah takut, tak usah takut! Ada apa ini, ada apa?\
Puspa                                      : Begini Mbah, kami ingin meminta bantuan mbah.
Mbah Baruna                       : Bantuan macam mana yang kalian inginkan?
Indah                                      : Kami ingin meminta aji-aji buat nyantet saudara kami, Mbah.
Puspa                                      : Iya, Mbah. Buat saja dia menjadi seekor keong mbah!
Mbah Baruna                       : Siapakah nama saudara kalian itu?
Indah                                      : Sri Lestari, Mbah.
Mbah Baruna                       : Oooh, Sri Lestari yang cantik, baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung itu, ya? Hahaha
Puspa                                      : Sejak kapan dia cantik dan baik hati? Fitnah itu, Mbah!
Mbah Baruna                       : Wah, emang kenyataannya gitu.
Indah                                      : Sudah, sudah! (melanjutkan sambil berbisik) Dasar dukun nggak keren!
Mbah Baruna                       : Kalau begitu siapkan beberapa syarat yang harus kalian penuhi!
Puspa                                      : Apa syaratnya, Mbah?
Mbah Baruna                       : Serahkan nomor HP kalian padaku!
Indah                                      : Hah, kok syaratnya nomor HP sih, Mbah? Gaul gilaaa.
Mbah Baruna                       : Bukan, bukan! Bukan itu persyaratannya. Itu hanya agar aku bisa meng-SMS kalian untuk memberitahukan persyaratan yang sebenarnya. Hahahaha…
Puspa                                      : Yaelaaah… (mencatatkan nomor HP) Ini Mbah, segera SMS saya ya Mbah!
Beberapa hari kemudian setelah semua syarat dari Mbah Dukun Baruna terpenuhi, datanglah sebuah kiriman dari Kantor Pos, yang ternyata berisi mantra sihir sakti mandraguna dari Mbah Baruna. Kemudian mereka bergegas menemui Sri Lestari yang sedang berada di taman bunga.
Puspa                                      : Itu dia Sri Lestari! (sambil menunjuk ke arah Sri Lestari)
Puspa dan Indah                : (berlari menuju Sri Lestari)
Sri  Lestari pun terheran-heran menyambut kedatangan kedua saudaranya.
Sri Lestari                               : (dengan tatapan tak berdosa dan suara lemah lembut) Ada apa wahai saudaraku?
Puspa                                      : (sambil berkacak pinggang) Jangan sok imut deh!
Indah                                      : Jangan gitu dong, Pus. Jangan kasar-kasar sama Sri Lestari. (sambil mengedipkan mata ke Puspa)
Puspa                                      : (memasang tampang manis) Oiya, Maafkan aku ya? Saudaraku, maukah kamu mendengarkan puisi yang kami buat?
Sri Lestari                               : Tentu saja saudaraku.
Indah                                      : Dengarkan ya!
Puspa dan Indah                : (membacakan mantra dari Mbah Baruna)
Setelah membaca mantra Indah dan Puspa merasa ada yang aneh dengan badannya. Tiba-tiba badannya dipenuhi lendir dan dalam sekejap mata, mereka berubah menjadi keong yang berbau busuk.
Sri Lestari                                   : (terkejut) Apa yang terjadi saudaraku? Mengapa kalian jadi begini?
Sri lestari menangis tersedu-sedu. Mendengar tangisannya, Mak Patas pun datang. Ia shock melihat tubuh anak-anaknya berubah jadi keong yang berbau busuk.
Mak Patas                                 : (menangisi anak-anaknya) Tak sudilah aku punya anak macam kalian. Dasar anak-anak durhaka, sudah dikasi tahu malah mintanya tempe. Eh bukan, sudah dikasi nasehat tapi tetap saja tidak dilakukan!
Kemudian dengan berat hati mak Patas membuang si Keong Racun di sungai antah berantah. Keong-keong itu pun hanyut terbawa arus.
Hingga pada suau hari, Mbok Barokah menemukan keduanya.
Mbok Barokah                        : Wah, nasib sial nih. Masa nemu keong baunya kayak upil gini. Ya sudahlah, siapa tahu nanti berguna. Daripada tak dapat apa-apa.
Mbok Baroakh kemudian membawa kedua keong ke rumah. Ia menempatkannya pada suatu aquarium. Esoknya Mbok Rhondo berangkat kerja, pulangnya ia menemukan rumahnya penuh bau busuk dan laptopnya yang ia tinggal di rumah dalam keadaan menyala. Lebih parahnya, pulsa modemnya ikut habis.
Mbok Barokah                        : (terheran-heran) Siapa pula yang menghabiskan pulsaku ini? Weleh, weleh
Keesokan harinya, Mbok Barokah yang penasaran berpura-pura berangkat kerja. Namun sebenarnya, ia sembunyi di balik pohon besar di belakang rumahnya, kemudian mengintip siapa kiranya yang membuat kekacauan di rumahnya. Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sesosok gadis yang muncul tiba-tiba di sebelah aquarium di dalam rumahnya. Belum selesai ia terkejut atas peristiwa yang barusan dilihatnya, tiba-tiba dari aquarium itu muncul sesosok gadis lagi. Mbok Barokah mengamati mereka berdua dengan mata yang tak kunjung berkedip.
Mbok Barokah                        : Alamak! Apa pula itu? Gadis-gadis itu sungguh rupawan, namun mengapa menjadi keong busuk itu? Pusing kepala ini merasakan! Ckck..
Mbok Barokah                        : (berlari kencang memasuki rumahnya) Hey hey, kalian! Siapa kalian? (lipsing Lies-Big Bang)
(Mbok Rondho, Puspa, dan Indah sempat berjoget ria)
Puspa                                          : (lipsing Di Antara Kalian-D’massive)
Mbok Barokah                        : Bukan siapa siapa? Yang benar saja kamu! Kalian berdua telah mengotori rumahku, membuatnya menjadi seperti kapal pecah, menebarkan bau busuk dimana-mana, menghabiskan pulsaku. Memang ini milik mbah kalian apa? Pergi sana! Hus hus hus…
Indah                                          : (lipsing Ada Yang Marah-Matta)
Puspa                                          : (merajuk) Terima kasih ya Mbok Rondho sudah merawat kami selama ini. Mbok memang Rondho yang paling oke di seluruh jagat raya ini. Namun, bolehkah kami tetap di sini selama satu jam saja? Uploadnya masih 20%. Sungguh teramat tanggung. Ya ya ya?
Mbok Barokah                        : (dengan gaya berlebih) Tidak! Tidak! Tidak! Kalian telah membuatku rugi! Angkat kaki dari sini! Ohh.. bukan! Angat cangkang dari sini! Aku tidak sudi lagi merawat keong macam kalian! (lipsing Parasit-Gita Gutawa)
Mbok Barokah                        : (menendang Puspa dan Indah dari rumahnya)
Puspa dan Indah                    : Tidaaaaaaaaaak!
Puspa dan Indah pun melayang dengan penuh keindahan berkat tendangan spesial Mbok Barokah, mengarungi angkasa, melintasi samudera, dan menghilang entah kemana. Wuuusss.. (backsound Wuss Up-SS501)
Mbok Barokah                        : Sebenarnya ini video apa pula? Sudah lanjutkan saja. Sekalian saya update status. Hoho.. (lipsing Online-Saykoji)
Beberapa hari setelah Mbok Barokah mengupload video keong di rumahnya, terjadi kerusuhan di kalangan masyrakat. Dimana anak kecil menjadi suka berjoget, dimana anak remaja menjadi gemar mengkonsumsi sate keong, dimana ibu-ibu menjadi intensif dalam bergossip, dan nenek-nenek menjadi hafal lagu gaul. (Keong Racun-Video Klip)
Mbok Rondho                         : Hahahaha.. Aku kaya! Kaya! Kaya! Kayaaa!

~THE END~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar